Rabu, 07 Desember 2011

Gejala Bahasa


A.   Gejala Bahasa
Gejala bahasa atau peristiwa bahasa itu di antaranya ialah:
No.
Gejala
Definisi
Contoh
1
Adaptasi
Penyesuaian bentuk berdasarkan kaidah fonologis, kaidah ortografis, atau kaidah morfologis
pajeg menjadi pajak
voorloper menjadi pelopor
fardhu menjadi perlu
igreja menjadi gereja
voorschot menjadi persekot
coup d’etat menjadi kudeta
postcard menjadi kartu pos
mass production menjadi produksi massal
2
Analogi
Pembentukan kata berdasarkan contoh yang telah ada.
Berdasarkan kata ‘dewa-dewi’ dibentuk kata: putra-putri, siswa-siswi, saudara-saudari, pramugara-pramugari
Berdasarkan kata ‘industrialisasi’  ibentuk kata: hutanisasi, Indonesianisasi Berdasarkan kata ‘pramugari’ dibentuk kata: pramuniaga, pramuwisata,  ramuria, pramusaji, pramusiwi
Berdasarkan kata ‘swadesi’ dibentuk kata: swadaya, swasembada, swakarya, swasta, swalayan
Berdasarkan kata ‘tunanetra’ dibentuk kata: tunawicara, tunarungu, tunaaksara, tunawisma, tunakarya, tunasusila, tunabusana.
No.
Gejala
Definisi
Contoh
3
Anaptiksis
(Suara Bakti)
Penyisipan vokal e pepet untuk melancarkan ucapan
sloka menjadi seloka
srigala menjadi serigala
negri menjadi negeri
ksatria menjadi kesatria
4
Asimilasi
Proses perubahan bentuk kata karena dua fonem berbeda disamakan atau dijadikan hampir sama.
in-moral menjadi immoral
in-perfect menjadi imperfek
al-salam menjadi asalam
ad-similatio menjadi asimilasi
in-relevan menjadi irelevan
5
Disimilasi
Kebalikan dari asimilasi,
yaitu perubahan bentuk
kata yang terjadi karena
dua fonem yang sama
dijadikan berbeda.
saj jana menjadi sarjana
sayur-sayur menjadi sayur-mayur
6
Monoftongisasi
Perubahan bentuk kata
yang terjadi karena
perubahan diftong (vokal
rangkap) menjadi
monoftong (vokal tunggal)
autonomi menjadi otonomi
autobtografi menjadi otobiografi
satai menjadi sate
gulai menjadi gule
7
Diftongisasi
Perubahan bentuk kata yang terjadi karena
monoftong diubah menjadi
diftong. Jadi kebalikan
monoftongisasi.
sentosa menjadi sentausa
cuke menjadi cukai
pande menjadi pandai
gawe menjadi gawai
8
Sandi
(Persandian)
Perubahan bentuk kata
yang terjadi karena
peleburan dua buah vokal
yang berdampingan,
dengan akibat jumlah suku
kata berkurang satu.
keratuan menjadi keraton
kedatuan menjadi kedaton
sajian menjadi sajen
durian menjadi duren
9
Hiperkorek
Pembetulan bentuk kata yang sebenarnya sudah
betul, sehingga hasilnya
justru salah.
Sabtu menjadi Saptu
jadwal menjadi jadual
manajemen menjadi menejemen
asas menjadi azas
surga menjadi sorga
Teladan menjadi tauladan
izin menjadi ijin
Jumat menjadi Jum’at
kualifikasi menjadi kwalifikasi
frekuensi menjadi frekwensi
kuantitas menjadi kwantitas
November menjadi Nopember
10
Kontaminasi
(kerancuan)
Kekacauan karena dua
pengertian yang berbeda,
atau perpaduan dua buah
struktur yang seharusnya
tidak dipadukan.
berulang-ulang dan berkali-kali menjadi
berulang-kali
saudara-saudara dan saudara sekalian menjadi saudara-saudara sekalian
musnah dan punah menjadi musnah
11
Metatesis
Pergeseran kedudukan
fonem, atau perubahan
bentuk kata karena dua
fonem atau lebih dalam
suatu kata bergeser
tempatnya.
rontal menjadi lontar
anteng menjadi tenang
usap menjadi sapu
palsu menjadi sulap
keluk menjadi lekuk
No.
Gejala
Definisi
Contoh
12
Protesis
Perubahan fonem di depan
bentuk kata asal.
lang menjadi elang
mak menjadi emak
mas menjadi emas
undur menjadi mundur
stri menjadi istri
arta menjadi harta
alangan menjadi halangan
sa menjadi esa
atus menjadi ratus
eram menjadi peram
13
Epentesis
Perubahan bentuk kata
yang terjadi karena
penyisipan fonem ke dalam
kata asal
baya menjadi bahaya
bhayankara menjadi bhayangkara
gopala menjadi gembala
jur menjadi jemur
bhasa menjadi bahasa.
14
Paragog
Perubahan bentuk kata
karena penambahan fonem
di bagian akhir kata asal.
mama, bapa menjadi mamak dan bapak
pen menjadi pena
datu menjadi datuk
hulu bala menjadi hulubalang
boek menjadi buku
abad menjadi abadi
pati menjadi patih
bank menjadi bangku
gaja menjadi gajah
conto menjadi contoh.
15
Aferesis
Penghilangan fonem di
awal bentuk asal.
adhyaksa menjadi jaksa
empunya menjadi punya
sampuh menjadi ampuh
wujud menjadi ujud
bapak menjadi pak
ibu menjadi bu.
16
Sinkop
Penghilangan fonem di
tengah atau di dalam kata
asal.
laghu menjadi lagu
vidyadhari menjadi bidadari
pelihara menjadi piara
mangkin menjadi makin
niyata menjadi nyata
utpatti menjadi upeti.
17
Apokop
Penghilangan fonem di
akhir bentuk kata asal.
sikut menjadi siku
riang menjadi ria
balik menjadi bali
anugraha menjadi anugerah
pelangit menjadi pelangi.
18
Kontraksi
Pemendekan atau
penyingkatan suatu frasa
menjadi kata baru.
tidak ada menjadi tiada
kamu sekalian menjadi kalian
kelam harian menjadi kemarin
bagai itu menjadi begitu
bagai ini menjadi begini.
Akronim, seperti balita, siskamling, rudal, ampera,
pada dasarnya termasuk gejala kontraksi.
19
Nasalisasi
(penyengauan)
Penambahan bunyi sengau
atau fonem nasal, yaim /m/,
/n/, /ng/, den /ny/.
me baca menjadi membaca
pe duduk menjadi penduduk
pe garis menjadi penggaris.
No.
Gejala
Definisi
Contoh
20
Palatalisasi
Penambahan fonem palatal
/y/ pada suatu kata ketika
kata ini dilafalkan.
pada kata ia, dia. pria, panitia, ksatria, bersedia, yang masing-masing dilafalkan /iya/, /priya/, /diya/. /panitiya/, dan /bersediya/. jadi palatalisasi muncul di antara vokal /i/ dan /a/ yang digunakan
berdampingan.
21
Labialisasi
Penambahan fonem labial
/w/ di antara vokal /u/ dan
/a/ yang berdampingan
pads sebuah kata.
pada kata uang, buang, ruang, juang, kualitas, dan lain-lain. Selain itu, labialisasi juga muncul di antara vokal /u/ dan/e/. atau /u/ dan /i/ seperti pada
kata frekuensi dan kuitansi. Pada waktu kita lafalkan kata-kata itu, terasa sekali, bahwa di antara vokal-vokat tersebut timbul fonem labial /w/, misalnya uang kita lafalkan /uwang/,
22
Onomatope
Pembentukan kata
berdasarkan tiruan bunyibunyi.
hura-hura dari hore-hore.
aum (suara harimau)
meong (suara kucing)
embik (suara kambing)
desis (suara ular)
desah (suara napas)
ketuk (bunyi pintu atau meja dipukul dengan jari
atau palu)
23
Haplologi
Perubahan bentuk kata
yang berupa penghilangan
satu suku kata di tengahtengah
kata.
samanantara menjadi sementara
mahardhika menjadi merdeka
budhidaya menjadi budaya


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar